Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, bukan gunung api yang baru menunjukkan aktivitas dalam beberapa tahun terakhir. Gunung ini memiliki rekam jejak erupsi panjang dan dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Catatan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Gunung Dukono mengalami letusan secara menerus sejak 13 Agustus 1933 hingga kini. Kondisi tersebut menjadikan Dukono sebagai salah satu gunung api dengan aktivitas erupsi terpanjang di Indonesia.
Jauh sebelum periode erupsi yang dimulai pada 1933, Dukono juga memiliki sejarah letusan. Data Smithsonian Institution Global Volcanism Program (GVP) mencatat adanya letusan besar pada 1550. Saat itu, aliran lava mengisi selat antara Pulau Halmahera dan kerucut Gunung Mamuya yang berada sekitar 10 kilometer di timur laut kompleks kawah Dukono.
Setelah letusan besar tersebut, aktivitas vulkanik Dukono kembali tercatat dalam sejumlah periode. Sumber sejarah yang dirangkum sejumlah laporan menyebut peningkatan aktivitas terjadi pada 1861–1869 dan 1901, sebelum letusan besar pada 13 Agustus 1933. Setelah itu, aktivitas kembali muncul dalam beberapa periode, antara lain pada 1941–1942, 1945, 1946, 1952, 1969, 1971, 1991, 1992, 1993, dan 1995.
Badan Geologi menjelaskan Dukono berada di jalur vulkanik bagian utara Pulau Halmahera dan termasuk gunung api tipe A. Di kompleksnya terdapat sejumlah kawah, termasuk Kawah Malupang Warirang yang menjadi salah satu pusat aktivitas vulkanik. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.087 meter di atas permukaan laut berdasarkan data perpustakaan Badan Geologi.
Aktivitas Dukono bukan hanya berupa letusan besar. Karakter erupsinya juga dapat berupa ledakan abu yang terjadi berulang kali dan terkadang disertai aliran lava. Smithsonian Global Volcanism Program menyebut letusan eksplosif Dukono berlangsung hampir terus-menerus sejak 1933.
Pada 8 Mei 2026, aktivitas Dukono kembali menjadi perhatian setelah terjadi erupsi besar. BNPB melaporkan erupsi terjadi sekitar pukul 07.41 WIT dan menyebabkan sejumlah pendaki terdampak. Sementara itu, Reuters melaporkan kolom abu saat erupsi tersebut mencapai sekitar 10 kilometer ke udara. Aktivitas vulkanik kemudian terus berlangsung sehingga proses pencarian dan evakuasi di sekitar kawah menghadapi kondisi berbahaya.
Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa bahaya Dukono tidak berhenti pada saat terjadi letusan besar. Abu vulkanik dapat menyebar mengikuti arah angin dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat maupun penerbangan. Badan Geologi sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk menghindari kawasan kawah dan menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut ketika terjadi hujan abu.
Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas Dukono tetap dipantau secara intensif. NASA Earth Observatory juga menyoroti Dukono sebagai gunung api yang terus menunjukkan aktivitas erupsi, sekaligus menggambarkan posisi Indonesia sebagai salah satu kawasan vulkanik paling aktif di dunia.
Dengan rekam jejak yang membentang dari letusan besar pada abad ke-16 hingga aktivitas yang terus berlangsung pada 2026, Dukono memperlihatkan karakter yang berbeda dari gunung api yang hanya aktif dalam periode tertentu. Erupsi bagi Dukono bukan peristiwa sesaat, melainkan bagian dari sejarah panjang aktivitas vulkaniknya. Karena itu, pemantauan dan kepatuhan terhadap zona bahaya menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bagi masyarakat dan pendaki.
Penulis : MLT
Editor : Tim Redaksi FoksMLT









Komentar