Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengklaim pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai memberikan hasil. Sejumlah wilayah yang sebelumnya dilanda kemarau panjang dilaporkan kembali diguyur hujan setelah operasi penyemaian awan dilakukan.
OMC yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut mulai dilaksanakan di Maluku Utara pada Sabtu, 5 September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara, Fehby Alting, mengatakan hujan mulai terpantau di sejumlah wilayah Halmahera dan Pulau Morotai setelah tim melakukan penyemaian pada awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.
Wilayah yang dilaporkan mengalami hujan antara lain Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur dan Pulau Morotai.
Menurut Fehby, OMC tidak dilakukan dengan cara menaburkan bahan semai secara sembarangan. Tim terlebih dahulu memantau pertumbuhan awan dan mencari kondisi atmosfer yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
Dalam operasi tersebut, pesawat Cessna Caravan 208EX/PK-SNL digunakan untuk membawa sekitar 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 8.000 hingga 12.000 kaki dengan sasaran utama wilayah Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan Morotai.
Namun, kabar hujan setelah pelaksanaan OMC juga memunculkan beragam respons di media sosial. Sebagian netizen menyambut turunnya hujan, sementara komentar lain bernada satire terhadap pemerintah.
Salah satu komentar yang mencuat menyindir pemerintah dengan kalimat, “sekalian modifikasi bumi.” Komentar tersebut menjadi gambaran respons kritis warganet yang menyoroti persoalan lingkungan dan kondisi Maluku Utara secara lebih luas.
Di tengah kebahagiaan sebagian masyarakat menyambut hujan, pemerintah sebelumnya memang menghadapi persoalan kemarau ekstrem yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemprov Malut mencatat jumlah kejadian Karhutla meningkat dari 16 menjadi 33 titik pada akhir Agustus 2026.
BMKG Maluku Utara menyebut Agustus–September 2026 sebagai periode puncak musim kemarau ekstrem yang dipengaruhi El Nino kuat. Kondisi tersebut membuat vegetasi mengering dan meningkatkan risiko kebakaran, sementara kondisi hujan diperkirakan kembali normal pada November.
Operasi modifikasi cuaca pun menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan. Namun, keberhasilan OMC tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.
Editor : Tim Redaksi FoksMLT
Sumber Berita: BMKG









Komentar