Pemprov Malut Klaim Modifikasi Cuaca Turunkan Hujan, Netizen: Sekalian Modifikasi Bumi

Senin, 7 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar OMC di Maluku Utara. (Kredit Foto: ChatGPT/istimewa)

Ilustrasi gambar OMC di Maluku Utara. (Kredit Foto: ChatGPT/istimewa)

Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengklaim pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai memberikan hasil. Sejumlah wilayah yang sebelumnya dilanda kemarau panjang dilaporkan kembali diguyur hujan setelah operasi penyemaian awan dilakukan.

OMC yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut mulai dilaksanakan di Maluku Utara pada Sabtu, 5 September 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara, Fehby Alting, mengatakan hujan mulai terpantau di sejumlah wilayah Halmahera dan Pulau Morotai setelah tim melakukan penyemaian pada awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.

Wilayah yang dilaporkan mengalami hujan antara lain Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur dan Pulau Morotai.

Menurut Fehby, OMC tidak dilakukan dengan cara menaburkan bahan semai secara sembarangan. Tim terlebih dahulu memantau pertumbuhan awan dan mencari kondisi atmosfer yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

Dalam operasi tersebut, pesawat Cessna Caravan 208EX/PK-SNL digunakan untuk membawa sekitar 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 8.000 hingga 12.000 kaki dengan sasaran utama wilayah Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan Morotai.

Namun, kabar hujan setelah pelaksanaan OMC juga memunculkan beragam respons di media sosial. Sebagian netizen menyambut turunnya hujan, sementara komentar lain bernada satire terhadap pemerintah.

Salah satu komentar yang mencuat menyindir pemerintah dengan kalimat, “sekalian modifikasi bumi.” Komentar tersebut menjadi gambaran respons kritis warganet yang menyoroti persoalan lingkungan dan kondisi Maluku Utara secara lebih luas.

Di tengah kebahagiaan sebagian masyarakat menyambut hujan, pemerintah sebelumnya memang menghadapi persoalan kemarau ekstrem yang turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemprov Malut mencatat jumlah kejadian Karhutla meningkat dari 16 menjadi 33 titik pada akhir Agustus 2026.

BACA  Kronologi Sahriyani Merekrut Leader dan Member Investasi Zahra Berkah hingga Ditetapkan Tersangka

BMKG Maluku Utara menyebut Agustus–September 2026 sebagai periode puncak musim kemarau ekstrem yang dipengaruhi El Nino kuat. Kondisi tersebut membuat vegetasi mengering dan meningkatkan risiko kebakaran, sementara kondisi hujan diperkirakan kembali normal pada November.

Operasi modifikasi cuaca pun menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan. Namun, keberhasilan OMC tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.

Editor : Tim Redaksi FoksMLT

Sumber Berita: BMKG

Berita Terkait

Mengenal Perbedaan Peluru Hampa, Karet, dan Peluru Tajam
5 Tempat di Maluku Utara yang Paling Banyak “Suanggi”
Sebagian Wilayah Malut Diguyur Hujan, Warga Sujud Syukur
Polisi Sebut Ban Bekas PT IWIP Sengaja Dibakar, Pelaku Dilacak Lewat Sidik Jari
Maluku Utara Jadi Provinsi Paling Taat Beragama di Indonesia Versi Kemenag
IBSAP Didorong Jadi Upaya Perlindungan Kehati di Maluku Utara
Exploring Bandung’s Natural Wonders: From Volcanic Landscapes to Majestic Waterfall

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 15:49 WIT

Mengenal Perbedaan Peluru Hampa, Karet, dan Peluru Tajam

Senin, 21 September 2026 - 07:38 WIT

5 Tempat di Maluku Utara yang Paling Banyak “Suanggi”

Senin, 7 September 2026 - 09:10 WIT

Pemprov Malut Klaim Modifikasi Cuaca Turunkan Hujan, Netizen: Sekalian Modifikasi Bumi

Minggu, 6 September 2026 - 00:27 WIT

Sebagian Wilayah Malut Diguyur Hujan, Warga Sujud Syukur

Rabu, 2 September 2026 - 11:11 WIT

Polisi Sebut Ban Bekas PT IWIP Sengaja Dibakar, Pelaku Dilacak Lewat Sidik Jari

Berita Terbaru

Ilustrasi penampakan selongsong peluru dalam aksi protes warga di Halmahera Tengah. (Kredfit Foto: Istimewa)

Daerah

Mengenal Perbedaan Peluru Hampa, Karet, dan Peluru Tajam

Jumat, 25 Sep 2026 - 15:49 WIT