Istilah peluru hampa, peluru karet, dan peluru tajam kerap muncul dalam pemberitaan ketika polisi melakukan pengamanan massa atau menghadapi situasi yang dianggap mengancam keselamatan. Ketiganya sama-sama merupakan jenis amunisi, tetapi memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda.
Perbedaan paling mendasar terletak pada isi amunisi dan dampaknya ketika ditembakkan.
Peluru hampa
Peluru hampa atau blank ammunition tidak memiliki proyektil yang ditembakkan menuju sasaran seperti peluru tajam. Amunisi ini tetap menghasilkan suara ledakan ketika ditembakkan karena memiliki bahan pendorong, tetapi tidak dirancang untuk mengirimkan proyektil ke target.
Karena tidak memiliki proyektil seperti peluru tajam, peluru hampa kerap digunakan untuk kebutuhan tertentu seperti latihan, simulasi atau memberikan efek suara. Namun, bukan berarti tembakan dengan peluru hampa selalu aman. Pada jarak sangat dekat, tekanan gas dan bagian dari amunisi dapat tetap menimbulkan cedera.
Dalam konteks pengamanan massa, penggunaan amunisi tetap harus mengikuti prosedur dan kewenangan yang berlaku.
Peluru karet
Peluru karet menggunakan proyektil berbahan karet atau material sejenis yang dirancang sebagai alternatif dengan daya mematikan lebih rendah dibandingkan peluru tajam.
Meski disebut “peluru karet”, amunisi ini bukan berarti tidak berbahaya. Jika ditembakkan dari jarak atau ke bagian tubuh tertentu, peluru karet dapat menyebabkan luka serius.
Peraturan Kepolisian Nomor 1 Tahun 2022 tentang Senjata Api menyebut senjata api peluru karet sebagai salah satu kategori senjata yang dapat digunakan dalam kondisi dan peruntukan tertentu.
Dalam penggunaan kekuatan oleh polisi, amunisi karet juga tidak dapat dipahami sebagai pilihan yang bebas digunakan dalam setiap situasi. Penggunaan kekuatan harus mempertimbangkan antara lain legalitas, kebutuhan dan proporsionalitas tindakan terhadap ancaman yang dihadapi.
Peluru tajam
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, peluru tajam memiliki proyektil yang memang dirancang untuk mengenai sasaran. Karena itu, penggunaannya memiliki risiko paling serius terhadap tubuh manusia, termasuk menyebabkan kematian.
Dalam aturan kepolisian, penggunaan amunisi tajam berkaitan dengan situasi ancaman yang lebih serius. Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2025, misalnya, mengatur bahwa dalam kondisi penyerangan yang dapat mengancam jiwa petugas atau orang lain, polisi dapat menggunakan amunisi karet dan/atau tajam. Dalam kondisi tertentu, penggunaan senjata api untuk melumpuhkan dilakukan dengan amunisi tajam.
Artinya, keberadaan peluru tajam dalam perlengkapan petugas tidak dengan sendirinya berarti amunisi tersebut ditembakkan kepada massa atau seseorang. Ada aturan mengenai kondisi dan penggunaan kekuatan yang harus menjadi dasar tindakan.
Lalu apa perbedaannya?
Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat dari proyektil dan tingkat risikonya.
| Jenis | Proyektil | Fungsi umum | Risiko terhadap manusia |
|---|---|---|---|
| Peluru hampa | Tidak memiliki proyektil seperti peluru tajam | Latihan, simulasi atau efek suara tertentu | Tetap dapat mencederai pada kondisi tertentu |
| Peluru karet | Proyektil berbahan karet/material sejenis | Pengendalian dalam kondisi tertentu | Dapat menyebabkan luka serius |
| Peluru tajam | Proyektil logam | Menghadapi ancaman serius sesuai aturan | Dapat menyebabkan luka berat atau kematian |
Dalam praktik kepolisian, penggunaan amunisi merupakan bagian dari penggunaan kekuatan yang harus disesuaikan dengan situasi. Kajian Puslitbang Polri pada 2026 juga menekankan bahwa penggunaan senjata, baik yang mematikan maupun yang dikategorikan tidak mematikan, tetap memiliki risiko dan harus diterapkan secara terukur serta sesuai ketentuan.
Karena itu, ketika muncul pernyataan bahwa aparat menggunakan atau tidak menggunakan “peluru tajam”, hal tersebut perlu dibedakan dari penggunaan senjata api secara umum. Suara letusan saja tidak cukup untuk memastikan jenis amunisi yang digunakan. Penentuan jenis peluru membutuhkan keterangan resmi, pemeriksaan amunisi atau selongsong, serta bukti lain dari penyelidikan.
Dalam sebuah peristiwa bentrokan atau pengamanan massa, informasi mengenai jenis amunisi menjadi penting karena berkaitan dengan tingkat penggunaan kekuatan, risiko terhadap warga, dan pertanggungjawaban tindakan aparat.
Penulis : HT
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Google









Komentar