Laut Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menjadi ruang perlawanan warga terhadap aktivitas industri yang dinilai semakin menekan kehidupan nelayan. Puluhan warga bersama keluarga nelayan yang tergabung dalam Aliansi Persatuan Canga Kawasi–Mempertahankan Ruang Laut menggelar aksi untuk menyuarakan penolakan terhadap lalu lintas tongkang pengangkut ore nikel dan batu bara di perairan mereka, Rabu (26/8/2026).
Dengan membawa pesan “Laut Kawasi adalah Ruang Hidup Nelayan, Bukan Tol Harita”, warga menyampaikan keresahan atas semakin padatnya aktivitas kapal dan tongkang di sekitar pesisir Kawasi.
Bagi warga, persoalannya bukan semata soal kapal yang melintas. Laut merupakan ruang hidup yang menjadi sandaran keluarga nelayan untuk mencari nafkah. Di tengah perubahan kawasan daratan akibat aktivitas industri, laut disebut sebagai salah satu ruang yang masih bisa mereka akses untuk bertahan hidup.
Warga menyebut sekitar 32 tongkang melintas setiap hari di kawasan tersebut. Aktivitas itu dinilai berpotensi mengganggu ruang tangkap, keselamatan nelayan, serta keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.
Mereka juga mempertanyakan bagaimana ruang laut Kawasi digunakan dan diawasi. Termasuk bagaimana pemerintah memastikan jalur pelayaran, aktivitas bongkar-muat, hingga dampak lingkungan dari lalu lintas kapal tidak mengorbankan kehidupan masyarakat pesisir.
Nelayan Desa Kawasi, Aswat Ibrahim, mengatakan pesisir dan laut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar wilayah perairan.
“Pesisir laut adalah ruang hidup kami, tempat mencari makan, ruang bekerja, ruang interaksi sosial, dan masa depan anak-anak kami.”
Warga menilai perkembangan industri pertambangan Harita Nickel di Pulau Obi telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Mereka khawatir tekanan terhadap ruang hidup kini meluas dari daratan menuju pesisir dan laut.
Namun, warga menegaskan perjuangan mereka bukan berarti menolak seluruh aktivitas industri. Mereka meminta pembangunan berjalan dengan menghormati hak masyarakat setempat, menjamin keselamatan nelayan, serta menjaga keberlanjutan ekosistem.
Ketua Canga Kawasi, Ahmad Ibrahim, mengatakan masyarakat membutuhkan keadilan yang nyata di tengah narasi pertumbuhan ekonomi yang selama ini digaungkan.
“Kami bosan dengar narasi pertumbuhan ekonomi tinggi sementara kualitas hidup kami semakin rendah. Kami butuh distribusi keadilan yang nyata, bukan sekadar gimmick di beranda sosial media.”
Aksi berlangsung tertib dan damai. Warga membentangkan spanduk serta menampilkan tarian Cakalele sebagai simbol sikap dan perjuangan mempertahankan ruang laut.
Mereka kemudian menyampaikan delapan tuntutan. Pertama, meminta Harita Nickel menghentikan aktivitas tongkang yang dinilai mengganggu ruang hidup dan aktivitas nelayan di perairan Kawasi.
Kedua, mendesak pemerintah pusat dan daerah segera melakukan evaluasi serta pengawasan menyeluruh terhadap lalu lintas kapal dan tongkang pengangkut nikel di pesisir Kawasi. Ketiga, meminta pemerintah daerah memberikan jaminan perlindungan terhadap ruang tangkap dan keselamatan nelayan.
Keempat, warga menuntut penghentian pencemaran dan kerusakan ekosistem pesisir serta laut Kawasi. Kelima, mereka meminta keterbukaan informasi mengenai izin, jalur pelayaran, aktivitas bongkar-muat, dan pengelolaan lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas industri.
Keenam, masyarakat meminta dilibatkan secara bermakna dalam setiap keputusan yang menyangkut perubahan ruang hidup dan ruang laut mereka. Ketujuh, warga mendorong penegakan hukum terhadap aktivitas yang terbukti melanggar aturan lingkungan maupun ketentuan pemanfaatan ruang laut.
Tuntutan terakhir berkaitan dengan relokasi Desa Kawasi. Warga meminta relokasi paksa ke permukiman ecovillage dihentikan serta Peraturan Bupati Halmahera Selatan Nomor 72 Tahun 2023 tentang pelaksanaan relokasi Desa Kawasi dicabut.
Bagi warga Kawasi, mempertahankan laut bukan sekadar mempertahankan wilayah tangkap. Mereka sedang mempertahankan ruang hidup yang tersisa agar tetap aman dan produktif bagi keluarga nelayan serta generasi yang akan datang.
Penulis : Tim
Editor : Redaksi









Komentar